Kabar TEMBORO | Media Online 19 September 2026
Temboro

Warkop Pak Pegon, Paling Legendaris di Temboro

Tidak ada papan nama. Tidak ada promosi. Namun, Warung Kopi (Warkop) Pak Pegon sudah begitu melegenda di Temboro. Nama warung ini bahkan kerap disebut para kiai Temboro dalam ceramah mereka.

Warkop Pak Pegon, Paling Legendaris di Temboro
Pak Pegon sedang duduk di depan warung kopinya.
TEMBORO- Pagi itu, Pak Munib (60) tampak menikmati nasi pecel. Ia duduk di bangku kayu panjang khas warung jadul. Meja makan dan bangkunya sama-sama memanjang. Di separuh sisi meja terdapat lemari kayu tempat menyimpan aneka gorengan, terutama tempe dan tahu.

Sambil menyantap nasi pecel, Pak Munib mengambil gorengan yang diinginkannya. Segelas kopi hitam menjadi teman sarapannya.

“Saya biasa sarapan dan minum kopi di sini sejak tahun 1990-an. Kopinya mantap. Ini kopi kampung asli. Umur saya sekarang sudah kepala enam,” kata Pak Munib sambil tersenyum.

Pak Munib tinggal di dekat Pondok Pusat Pesantren Al-Fatah, sekitar setengah kilometer dari Warkop Pak Pegon. Namun, ia tetap memilih warung tersebut dibandingkan warung kopi lain yang ada di Temboro.

Bagi warga asli Temboro, Warkop Pak Pegon bukan sekadar tempat minum kopi. Warung ini sudah menjadi bagian dari cerita kehidupan kampung. Tidak heran, orang-orang yang baru datang ke Temboro pun sering penasaran ingin mencarinya.

Persoalannya, mencari Warkop Pak Pegon tidak selalu mudah.

Warung itu tidak memasang papan nama. Dari luar pun bentuknya sekilas tidak tampak seperti warung. Sebagian bangunan tertutup tirai bambu. Jika tidak memperhatikan dengan saksama, orang mungkin tidak akan menyangka bahwa di balik tirai tersebut terdapat warung kopi.

Lokasinya sebenarnya sangat strategis, berada di jalur yang sejak dulu ramai dilalui warga. Warung itu berada di samping toko peralatan aluminium Al-Mabruk yang cukup megah, milik Maulana Muhammad Masyhur Dardiri, anak pertama Pak Pegon.

Jalur Perlintasan

Warkop Pak Pegon pertama kali didirikan pada 1992. Saat itu Temboro masih relatif sepi. Namun, jalan di depan rumah Pak Pegon cukup ramai dilalui orang, baik berjalan kaki maupun bersepeda, terutama mereka yang menuju Manisrejo.

Saat itu, markas dakwah Jamaah Tabligh Temboro masih berada di Masjid Manisrejo.

Maulana Dardiri masih mengingat awal mula berdirinya warung tersebut.

“Saya masih ingat, waktu itu Ibu, Bapak, dan saya duduk bertiga. Ibu berkata, bagaimana kalau kita buat warung saja? ‘Warung apa?’ tanya saya dan ayah. Bagaimana kalau warung kopi?” kata Maulana Dardiri, menirukan percakapan keluarganya.

Tidak lama kemudian, ide tersebut diwujudkan. "Ibu memang tegas. Beliaulah yang membentuk watak kami. Beliau sampaikan kalau kami ini orang susah, tapi kalau mau berusaha sungguh-sungguh insyaAllah bisa. Ibu tidak sekedar bercerita, beliau langsung melakukan dan mencontohkannya kepada kami," kenang Maulana.

"Saat memulai warung, ayah membeli secangkir biji kopi dari warung Pak Mangat atau Pak Santoso dekat Masjid Darussalam. Kami minta kopi Robusta yang paling bagus. Lalu kopi itu kami gongseng sendiri di kreweng, sejenis wajan dari tanah liat. Kemudian kami tumbuk, tetapi tidak sampai halus, masih agak kasar dan tanpa dicampur apa pun. Inilah ciri khas kopi kami sehingga melegenda,” tambah Maulana Dardiri.

Selain kopi, warung tersebut menjual gorengan dan nasi pecel. Tiga menu itulah yang menjadi ciri khas warung-warung di Temboro pada masa itu.

Warung makan dengan beragam pilihan lauk baru bermunculan belakangan, seiring semakin banyaknya pendatang yang datang ke Temboro.

Tempat “Bayan Hidayah”

Lokasi yang strategis membuat orang-orang yang hendak berangkat atau pulang dari Masjid Manisrejo kerap mampir ke warung tersebut.

Dari kebiasaan itu kemudian muncul guyonan di antara para pelanggan.

“Eh, kita bayan hidayah dulu di warung Pak Pegon,” kata mereka saat hendak berangkat ke Manisrejo.

Sementara yang baru pulang dari Manisrejo akan mengatakan, “Eh, kita bayan wabsy dulu di warung Pak Pegon.”

Istilah "bayan hidayah" dan "bayan wabsy" tersebut adalah kode untuk ajakan ngopi.

Dalam tradisi Jamaah Tabligh, "bayan hidayah" merupakan nasihat atau pembekalan sebelum seseorang berangkat khuruj. Sedangkan "bayan wabsy" merupakan nasihat atau pembekalan setelah menyelesaikan khuruj fi sabilillah.

Saking populernya warung tersebut sebagai tempat “bayan hidayah dan bayan wabsy”, para kiai pun sering menyebut Kopi Pak Pegon atau Warung Pak Pegon dalam bayan atau ceramah mereka. Salah satunya adalah KH Uzairon Thoifur Abdillah.

Keluarga Kyai Uzairon dan keluarga Pak Pegon memang memiliki kedekatan sejak dahulu.

Kakek dan nenek Maulana Dardiri dahulu tinggal di kompleks Masjid Pondok Pusat yang sekarang, tepatnya di kawasan yang kini menjadi tempat suluk. Bahkan ketika masih kecil, Maulana Dardiri sempat tinggal di rumah kakeknya dari pihak Ayah yang bernama Ahmad Syarban. Kuburnya sekarang ada di belakang Pondok Pusat.

Suatu hari, Pak Ahmad Syarban mewakafkan tanahnya untuk Madrasah Al-Fatah. Setelah itu, keluarga Maulana Dardiri pindah ke lokasi rumah yang sekarang, tepatnya di sebelah tenggara Masjid Al-Huda. Tanah ini milik kakek dari pihak ibu yang bernama Ahmad Barnawi.

Ahmad Barnawi merupakan kakak dari orang tua Pak Sumaji, takmir Masjid Al-Huda sekarang. Ia dahulu mondok di Kerten, Ngawi. Untuk berangkat dan pulang dari Kerten, ia biasa berjalan kaki.

“Di antara saudara saya, hanya saya yang pernah berjumpa dengan kakek. Adik-adik saya tidak ada yang sempat berjumpa karena kakek keburu meninggal. Bahkan yang memberikan nama saya, Muhammad Masyhur Dardiri, adalah kakek Ahmad Barnawi,” ujar Maulana Dardiri.

Kedekatan di masa lalu membuat keluarga ndalem kerap membeli kopi dari warung Pak Pegon.

“Bu Masrohah, Kyai Dali, atau Pak Ahmad Shidik sering membeli kopi dari kami. Terkadang kami juga diminta menyangrai biji kurma sekaligus menumbuknya untuk dijadikan kopi,” kenang Maulana.

Bukan Nama Asli

Nama Pak Pegon ternyata bukan nama sebenarnya.

Pak Pegon adalah murid langsung Kyai Mahmud. Nama aslinya adalah Sadimin. Julukan “Pegon” diberikan oleh teman-temannya ketika mondok. Salah seorang teman seangkatannya adalah Mbah Basirun.

Pegon sendiri merupakan istilah untuk tulisan menggunakan huruf Arab dengan bahasa Jawa, yang banyak digunakan dalam lingkungan pesantren, khususnya ketika para santri belajar atau menulis kitab.

Menariknya, nama julukan tersebut justru lebih dikenal daripada nama aslinya.

“Banyak orang tidak mengetahui nama asli ayah saya,” kata Maulana Dardiri.

Sampai sekarang, nama Warung Pak Pegon tetap lebih populer di tengah masyarakat, meskipun nama resminya telah diganti menjadi Warung Kopi Al-Mabruk, mengikuti nama toko peralatan aluminium milik Maulana Dardiri.

Warung tersebut kini dikelola oleh anak kedua Pak Sadimin atau Pak Pegon, yakni Ustadz Saiful Umar atau yang akrab dipanggil Mas Broto.

Ustadz Saiful Umar merupakan seorang penghafal Al-Qur’an 30 juz. Menariknya, seluruh empat anak Pak Pegon juga merupakan penghafal Al-Qur’an.

Maulana Dardiri, yang sempat mengenyam pendidikan di Pakistan, kini menjadi salah seorang imam tetap di Masjid Al-Huda. Sementara adik bungsunya, Khalil, sejak Ramadan lalu juga menjadi imam salat Tarawih di masjid tersebut.

Setiap Ramadan, Masjid Al-Huda rutin melaksanakan salat Tarawih dengan target mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an selama satu bulan.

Di tengah perubahan Temboro yang terus berkembang, Warkop Pak Pegon tetap bertahan. Tanpa papan nama, tanpa promosi, dan dengan tampilan sederhana.

Namun, secangkir kopi kampung, nasi pecel, gorengan, serta cerita panjang yang menyertainya membuat warung kecil itu tetap memiliki tempat tersendiri dalam ingatan banyak orang.
GALERI

Foto Tambahan

Foto tambahan 1 untuk Warkop Pak Pegon, Paling Legendaris di Temboro
Foto tambahan 2 untuk Warkop Pak Pegon, Paling Legendaris di Temboro
Foto tambahan 3 untuk Warkop Pak Pegon, Paling Legendaris di Temboro