Kabar TEMBORO | Media Online 19 September 2026
Temboro

Pak Jamal Selalu Menangis Setiap Terkenang Kyai (Bag. 2)

Kenangan Pak Jamal dengan Kyai Mahmud dan Kyai Uzairon sangat mendalam. Setiap mengingat masa itu, dia sering tak kuasa menahan air matanya.

Pak Jamal Selalu Menangis Setiap Terkenang Kyai (Bag. 2)
Pondok Manisrejo. Dahulu adalah markas dakwah tabligh Temboro.
Temboro — Sejak pertama kali datang ke Temboro bersama jamaah dari Pakistan pada 1983, Pak Jamal beberapa kali kembali ke kampung tersebut. Tujuannya satu: bertemu dengan Kyai Mahmud.

Saat itu, suasana Temboro masih sepi. Usaha dakwah tabligh belum begitu hidup di tengah masyarakat, meskipun kegiatan pondok pesantren sudah cukup kuat.

Pak Jamal sendiri belum berpikir untuk menetap di Temboro. Ia justru sempat kembali ke kampung halamannya di Jiwan, Madiun. Namun, kondisi masyarakat ketika itu belum sepenuhnya mendukung keinginannya untuk menghidupkan usaha dakwah tabligh.

Penampilannya yang berjanggut serta mengenakan gamis atau kurtah kerap membuatnya dicurigai masyarakat. Ia bahkan merasa ada yang menganggap dirinya membawa paham yang ekstrem.

“Saya juga belum terpikir untuk tinggal di Temboro, karena di Temboro waktu itu juga belum hidup usaha dakwah tabligh meskipun suasana pondok sudah kuat,” kenangnya.

Selepas khuruj bersama jamaah Pakistan, Pak Jamal sempat tinggal di Solo bersama Sarwani, salah seorang teman yang ikut dalam perjalanan dakwah tersebut.

Beberapa waktu kemudian, muncul keinginan dalam dirinya untuk mengamalkan ilmu dakwah yang telah diperoleh. Dalam istilah jamaah tabligh, kegiatan tersebut dikenal sebagai "maqomi", yakni menghidupkan usaha dakwah di lingkungan tempat tinggal sendiri.

Namun, ia masih menghadapi berbagai persoalan di kampungnya. Karena itu, Pak Jamal mencoba mencari orang-orang Temboro yang dahulu pernah ikut khuruj bersama jamaah Pakistan. Sayangnya, tidak satu pun berhasil ditemuinya.

Ingatan Pak Jamal kemudian tertuju kepada Caruban, Madiun. Ia mengetahui bahwa dahulu cukup banyak orang Caruban yang pernah mengikuti khuruj bersama jamaah Pakistan.

Pak Jamal pun berangkat ke Caruban.

Kedatangannya disambut gembira oleh para ahbab di sana. Salah seorang di antaranya bahkan memberikan tempat tinggal sekaligus pekerjaan kepada Pak Jamal sebagai penjaga toko roti.

“Pagi-pagi saya mengantar anak-anaknya ke sekolah. Setiap bulan saya bersama dengan pemilik toko roti ini pergi khuruj tiga hari ke Solo,” tuturnya.

Pada awalnya, kehidupan tersebut berjalan normal. Namun, setelah beberapa waktu, istri pemilik toko roti merasa keberatan karena suaminya hampir setiap bulan pergi khuruj selama tiga hari ke Solo.

Pak Jamal memahami keadaan tersebut. Ia kemudian pamit dan kembali ke Jiwan dengan mengendarai sepeda.

Tidak lama setelah itu, perjalanan dakwah kembali membawanya ke Jakarta. Tujuannya adalah Masjid Kebon Jeruk, salah satu pusat kegiatan jamaah tabligh di Jakarta.

Di sana, Pak Jamal bertemu dengan sahabatnya dari Palembang, Zubaidi Anshori. Keduanya pernah bersama-sama khuruj selama beberapa bulan ke Malaysia dan Thailand.

Saat itu Zubaidi sudah menikah dengan seorang perempuan dari Parung, Depok. Pertemuan tersebut kemudian membawa cerita baru dalam kehidupan Pak Jamal. Zubaidi menawarinya untuk menikah dengan keponakan istrinya.

Pada 1985, Pak Jamal akhirnya menikah.

Sebagai pengantin baru, Pak Jamal kemudian mengajak istrinya pulang ke kampung halamannya di Jiwan, Madiun. Dalam perjalanan tersebut, ia menyempatkan diri mampir ke Temboro.

Dengan sepeda, Pak Jamal membonceng istrinya menuju Temboro. Sesampainya di sana, istrinya dititipkan di rumah seorang kawannya. Sementara Pak Jamal melanjutkan perjalanan menuju Manisrejo.

Di Markas Manisrejo itulah, ia kembali bertemu dengan sosok yang sangat berkesan dalam perjalanan dakwahnya: Kyai Mahmud.

Pak Jamal beberapa kali melihat Kyai Mahmud duduk merenung. Pada suatu kesempatan, ketika mereka hanya duduk berdua atau bertiga, Kyai Mahmud menyampaikan sebuah pesan yang hingga kini masih melekat kuat dalam ingatannya.

“Mal, kalau nanti anakku Ron (Kyai Uzairon) pulang dari Mesir, dia melanjutkan usaha dakwah tabligh di sini, mau tidak sampean menemani Ron?” kata Kyai Mahmud ketika itu.

Pak Jamal mengaku terkejut mendengar pertanyaan tersebut.

“Wah, kaget saya. Kyai Uzairon itu ulama, saya ini orang awam yang ingin berdekatan dengan ulama. Saya tidak bisa berkata-kata waktu itu,” kenangnya.

Beberapa waktu kemudian, Kyai Uzairon pulang dari Mesir. Pak Jamal pun kembali datang ke Markas Manisrejo.

Ia sering melihat Kyai Uzairon duduk sendirian. Dari situlah ia beberapa kali mendengar doa yang diucapkan Kyai Uzairon.

“Ya Allah, datangkanlah orang-orang yang layak memegang usaha dakwah ini ke Temboro. Ya Allah, datangkanlah wali-walimu.”

Ketika pertama kali mendengar doa tersebut, Pak Jamal mengaku belum memahami maksudnya.

“Saat itu saya belum mengerti dengan perkataan beliau itu. Minta didatangkan? Apa maksudnya,” katanya.

Namun, seiring berjalannya waktu, Pak Jamal mulai melihat satu per satu orang datang ke Temboro dan ikut menghidupkan usaha dakwah.

Saat itulah ia merasa mulai memahami makna doa Kyai Uzairon yang dulu sering didengarnya.

“Setelah banyak ahbab datang ke Temboro, saya menjadi faham,” ujarnya.

Kenangan tersebut rupanya begitu kuat membekas dalam dirinya. Bahkan hingga bertahun-tahun kemudian, setiap kali mengingat kembali perkataan Kyai Mahmud dan doa Kyai Uzairon, emosinya sulit terbendung.

“Maaf, setiap saya teringat hal ini, saya selalu menangis,” katanya sambil terisak.

Bagi Pak Jamal, kisah itu bukan sekadar kenangan perjalanan dakwah. Ada pesan, doa, dan pertemuan dengan para kyai yang menurutnya baru dapat ia pahami maknanya setelah waktu berjalan.

Dan setiap kali kenangan itu kembali hadir, air matanya pun kembali jatuh.
GALERI

Foto Tambahan

Foto tambahan 1 untuk Pak Jamal Selalu Menangis Setiap Terkenang Kyai (Bag. 2)